1. Metode
Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan
oleh guru untuk peserta didik sehingga terjadinya proses kegiatan belajar. Hal
ini senada dengan yang disampaikan oleh Sudjana (2011:76) mengatakan bahwa
metode mengajar ialah cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.
2. Metode
Problem Based Learning
Belajar akan lebih bermakna jika siswa menemukan
sendiri apa yang dipelajarinya. Peserta didik akan lebih mengingat informasi
apa yang ia dapat dari usaha sendiri atau terlibat langsung daripada mendapat
informasi dari orang lain. Belajar bermakna dikemukakan oleh Ausubel, ia
mengemukakan bahwa belajar bermakna merupakan proses belajar di mana informasi
baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang
sedang belajar. Kaitan dengan PBM (problem based learning) dalam hal mengaitkan
informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.
Menurut Fogarty (dalam Rusman 2012 : 243) mengatakan
bahwa PBM dimulai dengan masalah yang tidak terstuktur-sesuatu yang kacau. Dari
kekacauan ini siswa menggunakan berbagai kecerdasannya melalui diskusi dan
penelitian untuk menentukan isu nyata yang ada. Langkah-langkah yang akan
dilalui oleh siswa dalam sebuah proses PBM adalah: (1) menemukan masalah; (2)
mendefinisikan masalah; (3) mengumpulkan fakta dengan menggunakan KND; (4)
pembuatan hipotesis, (5) penelitian; (6) rephrasing masalah; (7) menyuguhkan
alternatif; dan (8) mengusulkan solusi.
Menurut Hanafiah (2012) mengatakan bahwa problem based
learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai
suatu konteks sehingga peserta didik dapat belajar kritis dalam melakukan
pemecahan masalah yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang
esensial dari bahan pelajaran.
Menurut Panen (dalam Rusmono 2012 : 74) mengatakan
bahwa dalam strategi pembelajaran dengan PBL siswa diharapkan untuk terlibat
dalam proses penelitian yang mengharuskannya untuk mengidentifikasi
permasalahan, mengumpulkan data, dan menggunakan data tersebut untuk pemecahan
masalah.
Menurut
Sanjaya (dalam Rusmono, 2012 : 78) mengatakan:
Dalam
strategi pembelajaran dengan PBL paling tidak terdapat lima kriteria dalam
memilih materi pembelajaran (1): materi pembelajaran harus mengandung isu-isu
yang mengandung konflik yang dapat bersumber dari berita, rekaman video, dan
lainnya; (2) materi yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan
siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik; (3) materi yang
dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan keperluan orang banyak
(universal) sehingga dirasakan manfaatnya; (4) materi yang dipilih merupakan
bahan yang mendukung kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan
kurikulum yang berlaku; dan (5) materi yang dipilih sesuai dengan minat siswa,
sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.
3. Metode Make
a Match
Metode ini dikembangkan oleh curran (1994). Salah satu
keunggulan dari teknk ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai
suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan.
Pada dasarnya, model pembelajaran ini melibatkan
materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka
belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk
menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha
berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas
kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat
ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Dalam hal ini guru berperan
sebagai pemonitor dan fasilitator. Model pembelajaran make a match ini cocok
diterapkan dalam segala jenis mata pelajaran dan semua jenjang pendidikan.
Menurut Rusman (2013 : 223) mengatakan :
Penerapan
metode ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa yang mencari pasangan kartu yang
merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan
kartunya diberi poin. Langkah-langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.
Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa
konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal
dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban).
b.
Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan
jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.
c.
Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok
dengan kartunya (kartu soal/atau kartu jawaban).
d.
Siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas
waktu diberi poin.
e.
Setelah satu babak dikocok lagi agar tiap siswa
mendapat kartu yang berada dari sebelumnya, demikian seterusnya.
f.
Kesimpulan.
4. Belajar
Setiap manusia perlu
belajar dan setiap manusia wajib menuntut ilmu. Dalam sebuah hadist, “Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan
kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu.
(HR. Ath-Thabrani). Pengertian belajar menurut para ahli berbeda-beda variasi
dan menekankan pada segi tertentu.
Menurut kimble
(dalam Karwono, 2010 :2) belajar adalah perubahan yang relatif permanen didalam
behavoral potentionality (potenai behavioral) sebagai akibat dari reinforced
practice (praktik yang diperkuat).
Menurut
bell-Gredlel (dalam Karwono, 2010 :2) mengatakan bahwa belajar adalah proses
yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies),
keterampilan (skills), dan sikap (attitude) yang diperoleh secara bertahap dan
berkelanjutan. Karena belajar memerlukan proses, proses ini berlangsung dalam
tahapan-tahapannya sendiri.
Menurut Sardiman (2005:28) mengemukakan “belajar
adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan
lingkungan”. Sardiman (2007:33)
mengemukakan Belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon,
antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dan respon ini akan terjadi suatu
hubungan yang erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus menerus,
hubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi terbiasa, otomatis.
Sedangkan Fudyartanto (dalam Baharrudin,
2007:13) memberikan pengertian bahwa “belajar adalah memperoleh pengetahuan
atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, mengusai pengalaman
dan mendapatkan informasi atau menemukan”.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat diambil
kesimpulan belajar adalah suatu perubahan yang terjadi akibat dari proses
pengalaman yang baru yang dilakukan secara sadar dan disengaja. Belajar akan
lebih bermakna jika berkaitan langsung dengan kehidupan disekitar.
Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam
belajar matematika yang penyebabnya adalah kurangnya kesiapan siswa untuk
mempelajari bidang studi tersebut. Abdurrahman (2003:273) mengemukakan
“berbagai bentuk kegiatan belajar prasangka yang merupakan landasan bagi siswa
dalam belajar matematika”. Berbagai bentuk kegiatan belajar tersebut adalah
sebagai berikut: (1) mengelompokkan benda-benda menurut
sifatnya; (2) mengenal jumlah anggota kelompok benda; (3) menghitung
benda-benda; (4) memberi nama angka yang muncul setelah angka tertentu
(misalnya, “Angka berapa yang muncul setelah angka 6?”); (5) menulis angka dari
0 hingga 10 dalam urutan yang benar; (6) mengukur dan membelah; (7) mengurutkan
benda dari yang besar ke yang kecil, yang panjang ke yang pendek; dan (8)
menyusun bagian-bagian menjadi keseluruhan.
Belajar matematika harus dibangun atas fondasi yang
kokoh tentang kobsep dan keterampilan. Menurut Abdurahman (2003: 275), fondasi
yang kokoh tersebut dapat diperoleh jika guru: (1) menekankan pembelajaran matematika
lebih pada pemberian jawaban atas berbagai persoalan daripada menghafal tanpa
pemahaman; (2) memberikan kesempatan yang cukup kepada siswa untuk melakukan
generalisasi ke berbagai macam aplikasi dan pengalaman dengan berbagai cara
memecahkan masalah dari apa saja yang dipelajari; (3) mengajarkan matematika
secara koheren, yang mengaitkan antara topik yang satu dengan topik yang lain;
(4) menyajikan pembelajaran yang seksama sehingga siswa memperoleh latihan yang
diperlukan; dan (5) menggunakan program yang sistematis yang memungkinkan
konsep dan keterampilan yang akan diajarkan berdiri di atas konsep dan
keterampilan yang telah dikuasai dengan baik.
Belajar matematika bukan hanya menghafal, memahami
tetapi juga melakukan latihan-latihan, tanpa latihan belajar tidak akan berarti
enguatan tidak ada dan hasil belajar mudah hilang. Satu hal yang harus dipahami
adalah bisa karena biasa. Sebagai contoh ketika kita melihat pemain bola, ia
berlari, mengecoh satu sampai dua bahkan tiga pemain dan mencetak skor. Menurut
kita, hal itu merupakan hal yang luar biasa, namun menurut pemain tersebut hal
itu merupakan hal yang biasa kerena kebiasaan mereka seperti itu. Kita ambil
contoh lagi, seorang pesulap dengan gayanya bisa menembus tembok, atau
menghilangkan benda, kita menganggapnya hal itu merupakan hal yang luar biasa,
hebat dan kok bisa ya. Namun, bagi mereka hal itu adalah hal yang biasa karena
biasa mereka lakukan. Ketika kita melihat teman kita mudah dalam mengerjakan
soal oleh guru, kita hanya menganggap dia pinter, otaknya cerdas IQ nya pasti
tinggi. Kita harus merubah pardigma itu, hal yang terpenting adalah berlatih
atau membentuk kebiasaan belajar karena tanpa adanya latihan mereka tidak akan
menjadi seperi itu.
5.
Hasil Belajar
Setiap manusia memperoleh apa yang ia usahakan,
walaupun kadang belum mencapai target namun itulah yang dinamakan hasil
usahanya. Hal ini terjadi pada proses belajar yang menghasilkan perubahan
tingkah laku, pengalaman, pengetahuan yang hasil belajar. Dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat
belajar secara efektif dan efisien mengarah pada tujuan yang diharapkan
sehingga siswa dapat memperoleh prestasi yang gemilang. Salah satu prestasi
siswa yang baik adalah
siswa memperoleh nilai yang bagus terutama dalam bidang studi matematika.
Sebagaimana diungkapkan Kunandar (2007:251) mengemukakan “hasil belajar adalah kemampuan siswa
dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu
kompetensi dasar”.
Lebih lanjut Kunandar (2007:251) mengemukakan
bahwa:
Hasil
belajar dalam silabus berfungsi sebagai penunjuk tentang perubahan perubahan
perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang
dilakukan sesuai dengan kompetensi dasar dan materi standar yang dikaji yang bisa
berbentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap.
Sedangkan
Romiszowski (dalam Abdurrahman, 2003:15)
menyatakan:
Hasil belajar adalah keluaran (output)
dari suatu sistem pemrosesan masukan (input). Masukan dari sistem
tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan
atau kinerja (performance).
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil
yang telah dicapai siswa setelah menerima suatu pengetahuan yang diwujudkan
dalam bentuk angka atau nilai dan perubahan perbuatan/tingkah laku. Hasil belajar merupakan bentuk
nyata dari apa yang telah kita pelajari dan kuasai selama ini.
Dalam
pencapaian hasil belajar akan ditandai dengan indikator hasil belajar. Menurut
Kunandar (2007:251) mengemukakan bahwa:
Indikator
hasil belajar adalah ciri penanda ketercapaian kompetensi dasar indikator dalam
silabus berfungsi sebagai tanda-tanda yang menunjukkan terjadinya perubahan
perilaku pada diri siswa. Tanda-tanda ini lebih spesifik dan lebih dapat diamati
dalam diri siswa, jika serangkaian indikator hasil belajar sudah tampak pada diri
siswa, target kompetensi dasar tersebut sudah terpenuhi atau tercapai.
Sedangkan
menurut Ahmadi (2004:138) menyatakan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh:
1)
Faktor intern, meliputi: tujuan, minat, aktivitas, kecakapan, kebiasaan
belajar serta penguasaan bahan pelajaran.
2)
Faktor ekstern meliputi:
a)
Faktor lingkungan sekolah, berupa cara memberi pelajaran dan bahan-bahan
bacaan, alat peraga dan sebagainya.
b)
Faktor lingkungan keluarga, meliputi perhatian orang tua, sarana dan
prasarana belajar di rumah dan sebagainya.
c)
Faktor lingkungan masyarakat yaitu tempat tinggal siswa tersebut.
Dari kedua
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pencapaian hasil belajar akan
ditandai dengan indikator hasil belajar sebagai tanda-tanda perubahan perilaku
dalam diri siswa. Indikator ketercapaian hasil belajar tersebut akan
dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari diri siswa seperti tujuan, aktivitas
serta penguasaan bahan pelajaran maupun dari luar diri siswa seperti cara guru
memberikan materi pelajaran, perhatian orang tua, ataupun kepedulian warga
masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
No comments:
Post a Comment