Breaking

Monday, May 22, 2017

Metode Pembelajaran



1.      Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk peserta didik sehingga terjadinya proses kegiatan belajar. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Sudjana (2011:76) mengatakan bahwa metode mengajar ialah cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.
2.      Metode Problem Based Learning
Belajar akan lebih bermakna jika siswa menemukan sendiri apa yang dipelajarinya. Peserta didik akan lebih mengingat informasi apa yang ia dapat dari usaha sendiri atau terlibat langsung daripada mendapat informasi dari orang lain. Belajar bermakna dikemukakan oleh Ausubel, ia mengemukakan bahwa belajar bermakna merupakan proses belajar di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang belajar. Kaitan dengan PBM (problem based learning) dalam hal mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.
Menurut Fogarty (dalam Rusman 2012 : 243) mengatakan bahwa PBM dimulai dengan masalah yang tidak terstuktur-sesuatu yang kacau. Dari kekacauan ini siswa menggunakan berbagai kecerdasannya melalui diskusi dan penelitian untuk menentukan isu nyata yang ada. Langkah-langkah yang akan dilalui oleh siswa dalam sebuah proses PBM adalah: (1) menemukan masalah; (2) mendefinisikan masalah; (3) mengumpulkan fakta dengan menggunakan KND; (4) pembuatan hipotesis, (5) penelitian; (6) rephrasing masalah; (7) menyuguhkan alternatif; dan (8) mengusulkan solusi.
Menurut Hanafiah (2012) mengatakan bahwa problem based learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai suatu konteks sehingga peserta didik dapat belajar kritis dalam melakukan pemecahan masalah yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esensial dari bahan pelajaran.
Menurut Panen (dalam Rusmono 2012 : 74) mengatakan bahwa dalam strategi pembelajaran dengan PBL siswa diharapkan untuk terlibat dalam proses penelitian yang mengharuskannya untuk mengidentifikasi permasalahan, mengumpulkan data, dan menggunakan data tersebut untuk pemecahan masalah.
Menurut Sanjaya (dalam Rusmono, 2012 : 78) mengatakan:
Dalam strategi pembelajaran dengan PBL paling tidak terdapat lima kriteria dalam memilih materi pembelajaran (1): materi pembelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik yang dapat bersumber dari berita, rekaman video, dan lainnya; (2) materi yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik; (3) materi yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan keperluan orang banyak (universal) sehingga dirasakan manfaatnya; (4) materi yang dipilih merupakan bahan yang mendukung kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku; dan (5) materi yang dipilih sesuai dengan minat siswa, sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya. 

3.      Metode Make a Match
Metode ini dikembangkan oleh curran (1994). Salah satu keunggulan dari teknk ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan.
Pada dasarnya, model pembelajaran ini melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Dalam hal ini guru berperan sebagai pemonitor dan fasilitator. Model pembelajaran make a match ini cocok diterapkan dalam segala jenis mata pelajaran dan semua jenjang pendidikan.
Menurut Rusman (2013 : 223) mengatakan :
Penerapan metode ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa yang mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Langkah-langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.       Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban).
b.      Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.
c.       Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/atau kartu jawaban).
d.      Siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
e.       Setelah satu babak dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berada dari sebelumnya, demikian seterusnya.
f.       Kesimpulan.     
4.      Belajar
Setiap manusia perlu belajar dan setiap manusia wajib menuntut ilmu. Dalam sebuah hadist, “Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani). Pengertian belajar menurut para ahli berbeda-beda variasi dan menekankan pada segi tertentu.
Menurut kimble (dalam Karwono, 2010 :2) belajar adalah perubahan yang relatif permanen didalam behavoral potentionality (potenai behavioral) sebagai akibat dari reinforced practice (praktik yang diperkuat).
Menurut bell-Gredlel (dalam Karwono, 2010 :2) mengatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) yang diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan. Karena belajar memerlukan proses, proses ini berlangsung dalam tahapan-tahapannya sendiri.  
Menurut Sardiman (2005:28) mengemukakan “belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Sardiman (2007:33) mengemukakan Belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respon, antara aksi dan reaksi. Antara stimulus dan respon ini akan terjadi suatu hubungan yang erat kalau sering dilatih. Berkat latihan yang terus menerus, hubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi terbiasa, otomatis.
Sedangkan Fudyartanto (dalam Baharrudin, 2007:13) memberikan pengertian bahwa “belajar adalah memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, mengusai pengalaman dan mendapatkan informasi atau menemukan”.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat diambil kesimpulan belajar adalah suatu perubahan yang terjadi akibat dari proses pengalaman yang baru yang dilakukan secara sadar dan disengaja. Belajar akan lebih bermakna jika berkaitan langsung dengan kehidupan disekitar. 
Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar matematika yang penyebabnya adalah kurangnya kesiapan siswa untuk mempelajari bidang studi tersebut. Abdurrahman (2003:273) mengemukakan “berbagai bentuk kegiatan belajar prasangka yang merupakan landasan bagi siswa dalam belajar matematika”. Berbagai bentuk kegiatan belajar tersebut adalah sebagai berikut: (1) mengelompokkan benda-benda menurut sifatnya; (2) mengenal jumlah anggota kelompok benda; (3) menghitung benda-benda; (4) memberi nama angka yang muncul setelah angka tertentu (misalnya, “Angka berapa yang muncul setelah angka 6?”); (5) menulis angka dari 0 hingga 10 dalam urutan yang benar; (6) mengukur dan membelah; (7) mengurutkan benda dari yang besar ke yang kecil, yang panjang ke yang pendek; dan (8) menyusun bagian-bagian menjadi keseluruhan.
Belajar matematika harus dibangun atas fondasi yang kokoh tentang kobsep dan keterampilan. Menurut Abdurahman (2003: 275), fondasi yang kokoh tersebut dapat diperoleh jika guru: (1) menekankan pembelajaran matematika lebih pada pemberian jawaban atas berbagai persoalan daripada menghafal tanpa pemahaman; (2) memberikan kesempatan yang cukup kepada siswa untuk melakukan generalisasi ke berbagai macam aplikasi dan pengalaman dengan berbagai cara memecahkan masalah dari apa saja yang dipelajari; (3) mengajarkan matematika secara koheren, yang mengaitkan antara topik yang satu dengan topik yang lain; (4) menyajikan pembelajaran yang seksama sehingga siswa memperoleh latihan yang diperlukan; dan (5) menggunakan program yang sistematis yang memungkinkan konsep dan keterampilan yang akan diajarkan berdiri di atas konsep dan keterampilan yang telah dikuasai dengan baik.
Belajar matematika bukan hanya menghafal, memahami tetapi juga melakukan latihan-latihan, tanpa latihan belajar tidak akan berarti enguatan tidak ada dan hasil belajar mudah hilang. Satu hal yang harus dipahami adalah bisa karena biasa. Sebagai contoh ketika kita melihat pemain bola, ia berlari, mengecoh satu sampai dua bahkan tiga pemain dan mencetak skor. Menurut kita, hal itu merupakan hal yang luar biasa, namun menurut pemain tersebut hal itu merupakan hal yang biasa kerena kebiasaan mereka seperti itu. Kita ambil contoh lagi, seorang pesulap dengan gayanya bisa menembus tembok, atau menghilangkan benda, kita menganggapnya hal itu merupakan hal yang luar biasa, hebat dan kok bisa ya. Namun, bagi mereka hal itu adalah hal yang biasa karena biasa mereka lakukan. Ketika kita melihat teman kita mudah dalam mengerjakan soal oleh guru, kita hanya menganggap dia pinter, otaknya cerdas IQ nya pasti tinggi. Kita harus merubah pardigma itu, hal yang terpenting adalah berlatih atau membentuk kebiasaan belajar karena tanpa adanya latihan mereka tidak akan menjadi seperi itu.
5.      Hasil Belajar
Setiap manusia memperoleh apa yang ia usahakan, walaupun kadang belum mencapai target namun itulah yang dinamakan hasil usahanya. Hal ini terjadi pada proses belajar yang menghasilkan perubahan tingkah laku, pengalaman, pengetahuan yang hasil belajar. Dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien mengarah pada tujuan yang diharapkan sehingga siswa dapat memperoleh prestasi yang gemilang. Salah satu prestasi siswa yang baik adalah siswa memperoleh nilai yang bagus terutama dalam bidang studi matematika.
Sebagaimana diungkapkan Kunandar (2007:251) mengemukakan “hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar”.
Lebih lanjut Kunandar (2007:251) mengemukakan bahwa:
Hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai penunjuk tentang perubahan perubahan perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan sesuai dengan kompetensi dasar dan materi standar yang dikaji yang bisa berbentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap.

Sedangkan Romiszowski (dalam Abdurrahman, 2003:15) menyatakan:
Hasil belajar adalah keluaran (output) dari suatu sistem pemrosesan masukan (input). Masukan dari sistem tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau kinerja (performance).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai siswa setelah menerima suatu pengetahuan yang diwujudkan dalam bentuk angka atau nilai dan perubahan perbuatan/tingkah laku. Hasil belajar merupakan bentuk nyata dari apa yang telah kita pelajari dan kuasai selama ini.
Dalam pencapaian hasil belajar akan ditandai dengan indikator hasil belajar. Menurut Kunandar (2007:251) mengemukakan bahwa:
Indikator hasil belajar adalah ciri penanda ketercapaian kompetensi dasar indikator dalam silabus berfungsi sebagai tanda-tanda yang menunjukkan terjadinya perubahan perilaku pada diri siswa. Tanda-tanda ini lebih spesifik dan lebih dapat diamati dalam diri siswa, jika serangkaian indikator hasil belajar sudah tampak pada diri siswa, target kompetensi dasar tersebut sudah terpenuhi atau tercapai. 

Sedangkan menurut Ahmadi (2004:138) menyatakan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh:
1)      Faktor intern, meliputi: tujuan, minat, aktivitas, kecakapan, kebiasaan belajar serta penguasaan bahan pelajaran.
2)      Faktor ekstern meliputi:
a)      Faktor lingkungan sekolah, berupa cara memberi pelajaran dan bahan-bahan bacaan, alat peraga dan sebagainya.
b)      Faktor lingkungan keluarga, meliputi perhatian orang tua, sarana dan prasarana belajar di rumah dan sebagainya.
c)      Faktor lingkungan masyarakat yaitu tempat tinggal siswa tersebut.

Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pencapaian hasil belajar akan ditandai dengan indikator hasil belajar sebagai tanda-tanda perubahan perilaku dalam diri siswa. Indikator ketercapaian hasil belajar tersebut akan dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari diri siswa seperti tujuan, aktivitas serta penguasaan bahan pelajaran maupun dari luar diri siswa seperti cara guru memberikan materi pelajaran, perhatian orang tua, ataupun kepedulian warga masyarakat sekitar tempat tinggalnya.

No comments:

Post a Comment