Kemampuan pemecahan
masalah dalam matematika siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor
tersebut muncul karena setiap individu memiliki perbedaan. Dimensi-dimensi
perbedaan individu antara lain adalah inteligensi, kemampuan berpikir logis,
kreativitas, gaya kognitif, kepribadian, nilai, sikap, dan minat. Peneliti di
seluruh dunia sangat tertarik untuk meneliti hubungan antara dimensi gaya
kognitif dengan kemampuan matematika (Chrysostomou, 2011).
1. Gaya
Kognitif
Menurut Sternberg dan Elena (1997:701), gaya kognitif
adalah jembatan antara kecerdasan dan kepribadian. Gaya kognitif mengacu pada
karakteristik seseorang dalam menanggapi, memproses, menyimpan, berpikir, dan
menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau berbagai jenis situasi
lingkungan (Brown, 2006; Kozhevnikov, 2007).
Menurut Basey (2009) bahwa “Cognitive Style is the
control process or style which is self generated, transient, situationally
determined conscious activity that a learner uses to organize and to regulate,
receive and transmite information and ultimate behaviour.” Yang berarti
gaya kognitif merupakan proses kontrol atau gaya yang merupakan manajemen diri,
sebagai perantara secara situasional untuk menentukan aktivitas sadar sehingga
digunakan seorang pebelajar untuk mengorganisasikan dan mengatur, menerima dan
menyebarkan informasi dan akhirnya menentukan perilaku dari pebelajar tersebut.
Witkin dan Goodenough (Danili&Reid, 2006)
mendefenisikan karakteristik utama dari gaya kognitif Field Dependent-Field
Independent sebagai berikut:
§ Field-Dependent
(FD) individual: one who can insufficiently separate an item from its context
and who readily accepts the dominating field or context.
§
Field-Independent (FI) individual: one who
can easily ‘break up’ an organized perceptual and separate readily an item from
its context.
Sedangkan
Polya (dalam Clark, 2009) menyatakan bahwa “Solving a problem means finding
a way out of difficulty, a way around an obstacle, attaining an aim which is
not immediately attainable.” Hal ini berarti bahwa memecahkan masalah
merupakan suatu usaha menemukan cara untuk keluar dari kesulitan, dimana cara
tersebut masih dikelilingi sejumlah hambatan, suatu usaha mencapai tujuan yang tidak segera dapat dicapai. Polya (1973) memberikan 4
langkah sistematis dalam memecahkan masalah, yaitu: Understanding the
problem (memahami masalah), Devising a plan (membuat rencana), Carrying
out the plan (melaksanakan rencana), dan Looking back (mengecek
kembali).
Menurut Una (dalam Ulya, 2015)
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara gaya kognitif siswa dengan
hasil belajar matematika. Hal ini berarti semakin tinggi gaya kognitif siswa (gaya
kognitif yang cenderung menyukai analisis dan pemecahan masalah) maka semakin
tinggi pula hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Gaya kognitif
ini sangat diperlukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal atau memecahkan
masalah matematika sebab karakteristik matematika adalah abstrak dan masalah
dalam matematika memerlukan pemecahan dan penyelesaian secara mendetail untuk
mendapatkan hasil yang benar.
2. Gaya
Belajar
Gaya belajar merupakan cara termudah yang dimiliki
oleh individu dalam menyerap, mengatur dan mengolah informasi yang diterima. Sedangkan
Winkel (1996: 147) mengemukakan bahwa, ”Gaya belajar merupakan cara belajar
yang khas bagi siswa. Cara khas ini bersifat individual yang kerapkali tidak
disadari dan sekali terbentuk dan cenderung bertahan terus”. Menurut Bobbi
DePorter dan Mike Hernacki (dalam Suyono dan Hariyanto, 2011:147) gaya belajar
merupakan suatu kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap dan kemudian
mengatur serta mengolah informasi. Menurut Kennet D Moore (dalam Sopiatin dan
Sahrain, 2011:37) mengatakan bahwa gaya belajar adalah cara seorang individu
mulai dari memproses, mendalami, dan berkonsentrasi terhadap sesuatu yang baru.
De Porter dan Hernacki (1999: 112-113) mengolongkan
gaya belajar berdasarkan cara menerima informasi dengan mudah (modalitas) ke
dalam tiga tipe yaitu gaya belajar tipe visual, tipe auditorial, dan tipe
kinestetik. Selanjutnya sesuai dengan pembagian tipe gaya belajar, orang dapat
diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu orang bertipe visual, auditorial, dan
kinestetik.
a. Visual
Orang-orang yang bertipe visual
memiliki ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
§ Perilaku
rapi, teratur, teliti terhadap detail.
§ Lebih
mudah dalam mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar.
§ Mengingat
dengan asosiasi visual.
§ Lebih
suka membacakan daripada dibacakan.
§ Mempunyai
masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan sering kali
minta bantuan orang untuk mengulanginya.
b. Auditorial
Orang-orang yang bertipe auditorial
memiliki ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
§ Mudah
terganggu oleh keributan.
§ Senang
membaca dengan keras dan mendengarkan.
§ Dapat
mengulang kembali atau menirukan nada dan birama, dan warna suara.
§ Suka
berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar.
§ Mempunyai
masalah dengan pekerjaan-pekarjaan yang bersifat
§ visualisasi,
seperti memotong bagian-bagian sehingga sesuai satu sama lain.
c. Kinestetik
Orang-orang yang bertipe kinestetik
memiliki ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
§ Selalu
berorientasi pada fisik, banyak gerak.
§ Berbicara
dengan perlahan.
§ Belajar
melalui manipulasi dan praktek.
§ Menyukai
buku-buku yang berorientasi pada plot dengan mencerminkan aksi dengan gerakan
tubuh saat membaca.
§ Ingin
melakukan segala sesuatu.
Aspek-aspek yang diukur gaya belajar
meliputi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Aspek-aspek yang diukur
dalam minat belajar meliputi kesadaran, keinginan atau kemauan,
perasaan senang dan perhatian.
Menurut Nitalia (2015) mengatakan bahwa gaya belajar
mempengaruhi prestasi belajar matematika peserta didik, minat belajar
mempengaruhi prestasi belajar matematika. Gaya belajar yang dimiliki setiap
perserta didik yang bermacam-macam mempengaruhi prestasinya. Sehingga guru
dituntut kreatif dan inovatif adalam pembelajaran, harus tahu gaya belajar
disukai pesrta didiknya. Begitu juga minat belajar, semakin besar minat belajar
peserta didik semakin meningkat prestasinya. Faktor minat belajar juga
dipengaruhi oleh guru. Guru harus bisa mengelola kelas dengan kondusif dan
menyenangkan.
3.
Minat
Minat adalah kecendrungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar. Seseorang yang tidak memiliki
minat belajar maka ia akan tidak bersemangat atau bhakan tidak mau belajar. Dan
sebaliknya jika seseorang memiliki minat belajar maka ia akan bersemangat untuk
belajar dan mengerjakan soal-soal atau latihan yang ada.
Full Text CLICK HERE

No comments:
Post a Comment