Breaking

Sunday, May 28, 2017

FACTOR YANG MEMPENGARUHI ANAK DAPAT MENGERJAKAN SOAL DENGAN CEPAT

Kemampuan pemecahan masalah dalam matematika siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut muncul karena setiap individu memiliki perbedaan. Dimensi-dimensi perbedaan individu antara lain adalah inteligensi, kemampuan berpikir logis, kreativitas, gaya kognitif, kepribadian, nilai, sikap, dan minat. Peneliti di seluruh dunia sangat tertarik untuk meneliti hubungan antara dimensi gaya kognitif dengan kemampuan matematika (Chrysostomou, 2011).


1.      Gaya Kognitif
Menurut Sternberg dan Elena (1997:701), gaya kognitif adalah jembatan antara kecerdasan dan kepribadian. Gaya kognitif mengacu pada karakteristik seseorang dalam menanggapi, memproses, menyimpan, berpikir, dan menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau berbagai jenis situasi lingkungan (Brown, 2006; Kozhevnikov, 2007).
Menurut Basey (2009) bahwa “Cognitive Style is the control process or style which is self generated, transient, situationally determined conscious activity that a learner uses to organize and to regulate, receive and transmite information and ultimate behaviour.” Yang berarti gaya kognitif merupakan proses kontrol atau gaya yang merupakan manajemen diri, sebagai perantara secara situasional untuk menentukan aktivitas sadar sehingga digunakan seorang pebelajar untuk mengorganisasikan dan mengatur, menerima dan menyebarkan informasi dan akhirnya menentukan perilaku dari pebelajar tersebut.
Witkin dan Goodenough (Danili&Reid, 2006) mendefenisikan karakteristik utama dari gaya kognitif Field Dependent-Field Independent sebagai berikut:
§  Field-Dependent (FD) individual: one who can insufficiently separate an item from its context and who readily accepts the dominating field or context.
§  Field-Independent (FI) individual: one who can easily ‘break up’ an organized perceptual and separate readily an item from its context.
Sedangkan Polya (dalam Clark, 2009) menyatakan bahwa “Solving a problem means finding a way out of difficulty, a way around an obstacle, attaining an aim which is not immediately attainable.” Hal ini berarti bahwa memecahkan masalah merupakan suatu usaha menemukan cara untuk keluar dari kesulitan, dimana cara tersebut masih dikelilingi sejumlah hambatan, suatu usaha mencapai tujuan yang tidak segera dapat dicapai. Polya (1973) memberikan 4 langkah sistematis dalam memecahkan masalah, yaitu: Understanding the problem (memahami masalah), Devising a plan (membuat rencana), Carrying out the plan (melaksanakan rencana), dan Looking back (mengecek kembali).
Menurut Una (dalam Ulya, 2015) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara gaya kognitif siswa dengan hasil belajar matematika. Hal ini berarti semakin tinggi gaya kognitif siswa (gaya kognitif yang cenderung menyukai analisis dan pemecahan masalah) maka semakin tinggi pula hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Gaya kognitif ini sangat diperlukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal atau memecahkan masalah matematika sebab karakteristik matematika adalah abstrak dan masalah dalam matematika memerlukan pemecahan dan penyelesaian secara mendetail untuk mendapatkan hasil yang benar.

2.      Gaya Belajar
Gaya belajar merupakan cara termudah yang dimiliki oleh individu dalam menyerap, mengatur dan mengolah informasi yang diterima. Sedangkan Winkel (1996: 147) mengemukakan bahwa, ”Gaya belajar merupakan cara belajar yang khas bagi siswa. Cara khas ini bersifat individual yang kerapkali tidak disadari dan sekali terbentuk dan cenderung bertahan terus”. Menurut Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (dalam Suyono dan Hariyanto, 2011:147) gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Menurut Kennet D Moore (dalam Sopiatin dan Sahrain, 2011:37) mengatakan bahwa gaya belajar adalah cara seorang individu mulai dari memproses, mendalami, dan berkonsentrasi terhadap sesuatu yang baru.
De Porter dan Hernacki (1999: 112-113) mengolongkan gaya belajar berdasarkan cara menerima informasi dengan mudah (modalitas) ke dalam tiga tipe yaitu gaya belajar tipe visual, tipe auditorial, dan tipe kinestetik. Selanjutnya sesuai dengan pembagian tipe gaya belajar, orang dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu orang bertipe visual, auditorial, dan kinestetik.
a.       Visual
Orang-orang yang bertipe visual memiliki ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
§  Perilaku rapi, teratur, teliti terhadap detail.
§  Lebih mudah dalam mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar.
§  Mengingat dengan asosiasi visual.
§  Lebih suka membacakan daripada dibacakan.
§  Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya.
b.      Auditorial
Orang-orang yang bertipe auditorial memiliki ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
§  Mudah terganggu oleh keributan.
§  Senang membaca dengan keras dan mendengarkan.
§  Dapat mengulang kembali atau menirukan nada dan birama, dan warna suara.
§  Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar.
§  Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekarjaan yang bersifat
§  visualisasi, seperti memotong bagian-bagian sehingga sesuai satu sama lain.
c.        Kinestetik
Orang-orang yang bertipe kinestetik memiliki ciri-ciri perilaku sebagai berikut:
§  Selalu berorientasi pada fisik, banyak gerak.
§  Berbicara dengan perlahan.
§  Belajar melalui manipulasi dan praktek.
§  Menyukai buku-buku yang berorientasi pada plot dengan mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca.
§  Ingin melakukan segala sesuatu.
Aspek-aspek yang diukur gaya belajar meliputi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Aspek-aspek yang diukur dalam minat belajar meliputi kesadaran, keinginan atau kemauan, perasaan senang dan perhatian.
Menurut Nitalia (2015) mengatakan bahwa gaya belajar mempengaruhi prestasi belajar matematika peserta didik, minat belajar mempengaruhi prestasi belajar matematika. Gaya belajar yang dimiliki setiap perserta didik yang bermacam-macam mempengaruhi prestasinya. Sehingga guru dituntut kreatif dan inovatif adalam pembelajaran, harus tahu gaya belajar disukai pesrta didiknya. Begitu juga minat belajar, semakin besar minat belajar peserta didik semakin meningkat prestasinya. Faktor minat belajar juga dipengaruhi oleh guru. Guru harus bisa mengelola kelas dengan kondusif dan menyenangkan.

3.      Minat
Minat adalah kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar. Seseorang yang tidak memiliki minat belajar maka ia akan tidak bersemangat atau bhakan tidak mau belajar. Dan sebaliknya jika seseorang memiliki minat belajar maka ia akan bersemangat untuk belajar dan mengerjakan soal-soal atau latihan yang ada.

Full Text CLICK HERE

No comments:

Post a Comment