Breaking

Saturday, May 27, 2017

Learning Cyrcle

Learning Cyrcle

http://uakron.edu

Learning Cycle merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa serta didasarkan pada pandangan kontruktivisme yaitu: (1) pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa, (2) informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu, (3) orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah (Fajaroh dan Dasna, 2008). 
Pada mulanya model ini terdiri dari tiga tahap, yaitu exploration, concep interduction dan concep aplication. Tiga tahap tersebut saat ini berkembang menjadi lima tahap yang terdiri atas engagement, exploration, explanation, elaboration serta evaluation. Learning Cycle dengan lima tahap ini dikenal dengan Learning Cycle 5E. 
Pada tahap engagement, guru berusaha membangkitkan minat dan keingintahuan siswa tentang materi yang akan dipelajari, hal ini dapat dilakukan guru dengan mengaitkan materi pembelajaran pada kehidupan sehari-hari, sehingga dapat membantu siswa dalam memahami atau mengidentifikasi masalah-masalah yang akan mereka hadapi. 
Tahap exploration, dan explanation memungkinkan siswa membangun pengetahuannya sendiri dan mengungkapkan kembali konsep yang telah mereka peroleh dengan bahasa mereka. Konsep ini yang nantinya akan mereka gunakan sebagai bekal dalam merencanakan pemecahan masalah. 
Pada tahap elaboration, siswa secara individu maupun kelompok, berlatih menerapkan konsep yang telah mereka peroleh sebelumnya untuk memecahkan masalah. Hal ini membantu siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. 
Sedangkan pada tahap terakhir, yakni evaluation, siswa dimungkinkan untuk mengevaluasi tahapan yang telah dilaksanakan. Implementasinya dalam kerja ilmiah dan prestasi belajar, siswa dapat mengecek kembali langkah-langkah yang telah dilakukan serta menginterpretasikan penyelesaian yang telah diperoleh pada tahap sebelumnya. Dengan demikian, penerapan model ini dalam pembelajaran IPA diharapkan dapat meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa.

Learning cycle adalah model pembelajaran berbasis konstruktivistik, peserta didik
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dari dunia sekitar (Iskandar, 2010). Learning Cycle
pertama kali dikembangkan oleh Science Curriculum Improvement Study (SCIS) tahun 1967
dengan menggunakan tiga fase yaitu fase eksploration, fase invention, dan fase discovey.
Kemudian dalam perkembangannya istilah fase pada siklus belajar ini mengalami perubahan,
yaitu eksplorasi (eksploration), fase pengenalan konsep (concept introduction), dan fase
aplikasi konsep (concept application). 
Pada tahun 1980, Rodger W.Bybee mengembangkan model pembelajaran learning cycle menjadi 5 fase yaitu: engagement, exploration, explanation, elaboration dan evaluation. Setiap fase “E” secara urut memberikan pengalaman belajar kepada siswa dalam menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan konsep baru (Kurnaz, 2008). Kelima fase ini kemudian dikenal dengan learning cycle 5E. Dalam perkembangannya, model learning cycle 5E mengalami perubahan menjadi learning cycle 7E. Penambahan siklus pada learning cycle 7E yaitu elicite dan extend. Dalam learning cycle 7E, engagement dikembangkan ke dalam eliciting dan engaging. Elaboration dan evaluation dikembangkan menjadi elaborating, evaluating dan extending sehingga learning cycle 7E memiliki tahapan elicit, engage, explore, explain, elaborate, evaluate dan extend (Eisenkraft, 2003).
Kurnas (2008) menjelaskan dalam penelitiannya bahwa siswa dan guru menemukan
kesulitan dalam merancang dan menerapkan “elaborasi”. Langkah ini merupakan langkah
keempat dalam learning cycle 5E. Learning cycle 7E merupakan pengembangan dari learning
cycle 5E, oleh sebab itu “elaborasi” menjadi sulit pada langkah kelima sampai ketujuh yaitu
elaborating, evaluating, dan extending. Dari pendapat Nas, pemilihan 5E dapat
meminimalisir kesulitan dalam pembelajaran. Kurnaz (2008) juga mengemukakan bahwa
learning cycle 5E merupakan versi populer dari learning cycle. Berdasarkan paparan tersebut,
peneliti menggunakan learning cycle 5E dalam membelajarkan materi kalor.
Kelebihan model learning cycle 5E antara lain dapat merangsang siswa untuk membuat pengalaman belajar masa lalu dan sekarang, mengekspos konsepsi siswa, memberikan suatu kegiatan agar siswa dapat mengidentifikasi konsep yang dimilikinya sehingga dapat memfasilitasi dalam perubahan konsep, memberikan kesempatan bagi guru untuk memperkenalkan suatu konsep dan keterampilan melalui pengalaman baru sehingga untuk menilai pemahaman dan kemampuan mereka. Learning cycle 5E juga dapat memberikan kesempatan bagi guru untuk mengevaluasi kemajuan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan (Bybee, 2006). 
Dalam pembelajaran fisika penerapan learning cycle 5E dapat menyebabkan: 
1) prestasi kemampuan fisika lebih baik;
2) penguasaan konsep lebih baik;
3) peningkatan sikap positif terhadap pelajaran fisika;
4) peningkatan sikap positif terhadap proses pembelajaran fisika; 
5) peningkatan kemampuan penalaran dan
6) keterampilan proses yang lebih unggul (Ergin, 2012). 

Referensi:
Kurnaz, M.A. dan Calik, M. (2008). “Using Different Conceptual Change Methods Embedded Within the 5E Model: A Sample Teaching for Heat and Temperatur”.Journal of Physics Teacher Education.5, (1), 1-25.

Bybee, R. W., Taylor,J.A., Gardner,A., Van Scotter, P., Powell, J.C., Westbrook, A., dan Landes, N. 2006. The BSCD 5Einstructional Model: Origins and Effectivitiness.(Online). Tersedia:www.bscs.org (diakses 20 April 2014).

Iskandar, S.M. 2010. Strategi Pembelajaran Konstruktivistik dalam Kimia. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang. Kulsum, U & Hindarto, N. 2011. Pene

Fajaroh, F dan Dasna, I.W. 2008. Pembelajaran dengan Model Siklus Belajar (Learning Cycle). (Online), (http ://massofa.wordpress.com, diakses 18 April 2014).

Arisanti, Titis Dyah., Koes H, Supriyono., Sumarjono. Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5e Untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 1 Baron Kabupaten Nganjuk.


No comments:

Post a Comment