Learning
Cycle merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa serta didasarkan pada pandangan kontruktivisme yaitu:
(1) pengetahuan dikonstruksi dari
pengalaman siswa, (2) informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu, (3) orientasi pembelajaran adalah
investigasi dan penemuan yang merupakan
pemecahan
masalah (Fajaroh dan Dasna, 2008). Pada mulanya model ini terdiri dari tiga tahap, yaitu exploration, concep
interduction dan concep aplication. Tiga tahap
tersebut saat ini
berkembang menjadi lima tahap yang terdiri atas engagement,
exploration, explanation,
elaboration serta evaluation. Learning Cycle dengan lima
tahap ini dikenal dengan Learning
Cycle 5E.
Pada tahap engagement, guru berusaha
membangkitkan minat dan keingintahuan siswa tentang
materi yang akan dipelajari, hal ini dapat dilakukan guru dengan mengaitkan materi pembelajaran pada kehidupan
sehari-hari, sehingga dapat membantu siswa dalam
memahami atau mengidentifikasi masalah-masalah yang akan mereka hadapi.
Tahap exploration, dan explanation memungkinkan
siswa membangun pengetahuannya
sendiri dan mengungkapkan kembali konsep yang telah mereka peroleh dengan bahasa mereka. Konsep ini yang nantinya akan
mereka gunakan sebagai bekal dalam
merencanakan pemecahan masalah.
Pada tahap elaboration, siswa
secara individu maupun kelompok, berlatih
menerapkan konsep yang telah mereka peroleh sebelumnya untuk memecahkan masalah. Hal ini membantu
siswa dalam menyelesaikan
permasalahan yang mereka hadapi.
Sedangkan
pada tahap terakhir, yakni evaluation, siswa
dimungkinkan untuk mengevaluasi tahapan yang telah dilaksanakan.
Implementasinya dalam kerja ilmiah dan prestasi belajar, siswa dapat mengecek kembali langkah-langkah yang telah dilakukan
serta menginterpretasikan penyelesaian
yang telah diperoleh pada tahap sebelumnya. Dengan demikian, penerapan model ini dalam pembelajaran IPA diharapkan dapat
meningkatkan kerja ilmiah dan prestasi
belajar siswa.
Learning cycle adalah
model pembelajaran berbasis konstruktivistik, peserta didik
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dari dunia sekitar (Iskandar, 2010). Learning Cycle
pertama kali dikembangkan oleh Science Curriculum Improvement Study (SCIS) tahun 1967
dengan menggunakan tiga fase yaitu fase eksploration, fase invention, dan fase discovey.
Kemudian dalam perkembangannya istilah fase pada siklus belajar ini mengalami perubahan,
yaitu eksplorasi (eksploration), fase pengenalan konsep (concept introduction), dan fase
aplikasi konsep (concept application).
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dari dunia sekitar (Iskandar, 2010). Learning Cycle
pertama kali dikembangkan oleh Science Curriculum Improvement Study (SCIS) tahun 1967
dengan menggunakan tiga fase yaitu fase eksploration, fase invention, dan fase discovey.
Kemudian dalam perkembangannya istilah fase pada siklus belajar ini mengalami perubahan,
yaitu eksplorasi (eksploration), fase pengenalan konsep (concept introduction), dan fase
aplikasi konsep (concept application).
Pada tahun
1980, Rodger W.Bybee mengembangkan model
pembelajaran learning cycle menjadi 5 fase yaitu: engagement,
exploration, explanation,
elaboration dan evaluation. Setiap fase
“E” secara urut memberikan pengalaman belajar
kepada siswa dalam menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan konsep baru (Kurnaz, 2008). Kelima fase ini kemudian dikenal
dengan learning cycle 5E. Dalam perkembangannya, model learning
cycle 5E mengalami perubahan menjadi learning
cycle 7E. Penambahan
siklus pada learning cycle 7E yaitu elicite dan extend. Dalam learning
cycle 7E, engagement dikembangkan
ke dalam eliciting dan engaging. Elaboration dan evaluation dikembangkan menjadi elaborating, evaluating dan extending sehingga
learning cycle 7E memiliki
tahapan elicit, engage, explore, explain, elaborate, evaluate dan extend (Eisenkraft, 2003).
Kurnas (2008)
menjelaskan dalam penelitiannya bahwa siswa dan guru menemukan
kesulitan dalam merancang dan menerapkan “elaborasi”. Langkah ini merupakan langkah
keempat dalam learning cycle 5E. Learning cycle 7E merupakan pengembangan dari learning
cycle 5E, oleh sebab itu “elaborasi” menjadi sulit pada langkah kelima sampai ketujuh yaitu
elaborating, evaluating, dan extending. Dari pendapat Nas, pemilihan 5E dapat
meminimalisir kesulitan dalam pembelajaran. Kurnaz (2008) juga mengemukakan bahwa
learning cycle 5E merupakan versi populer dari learning cycle. Berdasarkan paparan tersebut,
peneliti menggunakan learning cycle 5E dalam membelajarkan materi kalor.
kesulitan dalam merancang dan menerapkan “elaborasi”. Langkah ini merupakan langkah
keempat dalam learning cycle 5E. Learning cycle 7E merupakan pengembangan dari learning
cycle 5E, oleh sebab itu “elaborasi” menjadi sulit pada langkah kelima sampai ketujuh yaitu
elaborating, evaluating, dan extending. Dari pendapat Nas, pemilihan 5E dapat
meminimalisir kesulitan dalam pembelajaran. Kurnaz (2008) juga mengemukakan bahwa
learning cycle 5E merupakan versi populer dari learning cycle. Berdasarkan paparan tersebut,
peneliti menggunakan learning cycle 5E dalam membelajarkan materi kalor.
Kelebihan
model learning cycle 5E antara lain dapat merangsang siswa
untuk membuat pengalaman belajar masa lalu
dan sekarang, mengekspos konsepsi siswa,
memberikan
suatu kegiatan agar siswa dapat mengidentifikasi konsep yang dimilikinya sehingga dapat memfasilitasi dalam perubahan konsep,
memberikan kesempatan bagi guru untuk
memperkenalkan suatu konsep dan keterampilan melalui pengalaman baru sehingga untuk menilai pemahaman dan kemampuan mereka. Learning
cycle 5E juga dapat memberikan
kesempatan bagi guru untuk mengevaluasi kemajuan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan (Bybee, 2006).
Dalam
pembelajaran fisika penerapan learning cycle 5E dapat
menyebabkan:
1)
prestasi kemampuan fisika lebih baik;
2)
penguasaan konsep lebih baik;
3)
peningkatan sikap positif terhadap
pelajaran fisika;
4)
peningkatan sikap positif terhadap proses pembelajaran fisika;
5)
peningkatan kemampuan penalaran dan
6)
keterampilan proses yang lebih unggul (Ergin, 2012).
Sumber gambar: www.pearsonelt.com
Referensi:
Kurnaz, M.A. dan Calik, M. (2008). “Using Different Conceptual
Change Methods Embedded
Within the 5E Model: A Sample Teaching for Heat and Temperatur”.Journal of
Physics Teacher Education.5, (1), 1-25.
Bybee, R. W., Taylor,J.A., Gardner,A., Van Scotter, P., Powell,
J.C., Westbrook, A., dan Landes, N. 2006. The BSCD 5Einstructional Model: Origins and Effectivitiness.(Online). Tersedia:www.bscs.org (diakses 20 April 2014).
Iskandar, S.M. 2010. Strategi Pembelajaran Konstruktivistik
dalam Kimia. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang. Kulsum, U & Hindarto, N. 2011. Pene
Fajaroh, F dan Dasna, I.W. 2008. Pembelajaran dengan Model
Siklus Belajar (Learning Cycle). (Online), (http
://massofa.wordpress.com, diakses 18 April 2014).
Arisanti, Titis Dyah., Koes H,
Supriyono., Sumarjono. Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5e Untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 1 Baron Kabupaten Nganjuk.

No comments:
Post a Comment