Breaking

Saturday, January 23, 2016

Metode Problem Based Learning



Metode Problem Based Learning
Menurut  Hanafiah (2012:71) mengatakan  bahwa:
Problem Based Learning, yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai suatu konteks sehingga peserta didik dapat belajar kritis dalam melakukan pemecahan masalah yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esensial dari bahan pelajaran.

Sedangkan Panen (dalam Rusmono 2012 : 74) mengatakan bahwa:
Dalam strategi pembelajaran dengan PBL siswa diharapkan untuk terlibat dalam proses penelitian yang mengharuskannya untuk mengidentifikasi permasalahan, mengumpulkan data, dan menggunakan data tersebut untuk pemecahan masalah.

Menurut Riyanto (2009:288) bahwa:
Metode problem based learning memfokuskan pada siswa dengan mengarahkan siswa menjadi pebelajar yang mandiri dan terlibat langsung secara aktif dalam pembelajaran.
Adapun langkah langkah-langkah problem based learning adalah:
a.       Guru mempersiapkan dan melemparkan masalah kepada siswa.
b.      Membentuk kelompok kecil, dalam masing-masing siswa mendiskusikan masalah tersebut dengan memanfaatkan dan mereffleksi pengetahuan/keterampilan yang mereka miliki. Siswa juga membuat rumusan masalahnya dan membuat hipotesis-hipotesisnya.
c.       Siswa mencari (hunting) informasi dan data yang berhubungan dengan masalah yang sudah dirumuskan.
d.     
8
 
Siswa berkumpul dalam kelompoknya untuk melaporkan data yang sudah diperoleh dan mendiskusikan dalam kelompoknya berdasarkan data-data yang diperoleh tersebut. Langkah ini diulang-ulang sampai memperoleh solusinya.
e.       Kegiatan diskusi penutup sebagai kegiatan akhir, apabila proses sudah memperoleh solusi yang tepat.

Menurut Nur (dalam Rusmono, 2012:81) ada beberapa tahapan dalam pembelajaran dengan PBL yaitu:
Tabel 2. Tahapan Pembelajaran dengan PBL
Tahap Pembelajaran
Perilaku Guru
Tahap 1:
Mengorganisasikan siswa kepada masalah
Guru menginformasikan tujuan-tujuan pembelajaran, mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan logistik penting, dan memotivasi siswa agar terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah
Tahap 2:
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Guru membantu siswa menentukan dan mengatur tugas-tugas belajra yang berhungan dengan masalah itu
Tahap 3:
Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Guru mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, mencari penjelasan, dan solusi
Tahap 4:
Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karya serta pameran
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan hasil karya yang sesuai seperti laporan, rekaman video, dan model, serta membantu berbagi karya mereka
Tahap 5:
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa melakukan reflesi datas penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan

Lebih lanjut Rusmono (2012:83) mengatakan bahwa langkah-langkah pembelajaran dengan PBL adalah sebagai berikut:
a.      Pendahuluan
1)      Pemberian motivasi
2)      Pembagian kelompok
3)      Informasi tujuan Pembelajaran
b.      Penyajian
1)      Mengorientasikan siswa kepada masalah
2)      Mengorganisasikan siswa untuk belajar
3)      Mengembangkan dan mempresenratasikan hasil karya dan pameran
c.       Penutup
1)      Merangkum materi yang telah dipelajari
2)      Melaksanakan tes dan pemberian pekerjaan rumah.
Menurut Sanjaya (2008:220) bahwa keunggulan pembelajaran berbasis masalah, diantaranya:
a.       Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b.      Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberi kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c.       Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d.      Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e.       Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi diri sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
f.       Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
g.      Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h.      Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i.        Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan dalam dunia nyata.
j.        Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
Sedangkan kelemahan pembelajaran berbasis masalah, diantaranya:
a.       Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan enggan untuk mencoba.
b.      Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c.       Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah metode yang memberikan kesempatan kepada siswa baik secara individu maupun kelompok untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan memahami suatu masalah dan menemukan solusi dari permasalahan yang ada.
Sehingga langkah-langkah metode problem based learning dalam dibagi menjadi 5 tahap pembelajaran yaitu: 
Tabel 3. Langkah-langkah Metode Problem Based Learning
Tahap Pembelajaran
Kegiatan
Fase 1
Orientasi siswa pada masalah
Guru membagi kelompok, Guru memberikan masalah dalam bentuk LKS untuk didiskusikan siswa per kelompok
Fase 2
Mengorganisasikan siswa belajar
Guru mendorong siswa agar bekerja sama dalam kelompok guna untuk pemecahan masalah
Fase 3
Membimbing penyelidikan individu dan kelompok
Guru membimbing siswa baik individu maupun kelompok untuk mencari informasi tentang penyelesaian masalah persamaan kuadrat yang ada di dalam LKS.
Fase 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan hasil diskusi untuk dipresentasikan perwakilan kelompok.
Fase 5
Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Guru membantu siswa mengevaluasi hasil diskusi dan menyimpulkan hasil diskusi.

No comments:

Post a Comment