Breaking

Saturday, January 23, 2016

Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI



Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI
Dalam perkembangannya model pembelajaran kooperatif memiliki berbagai tipe. Tiap tipe mempunyai perbedaan dalam hakekat pembelajaran, bentuk kerjasama, peranan dan komunikasi antar siswa, serta peranan guru. menurut Riyanto (2009: 267) bahwa “pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill. Langkah-langkah pembelajaran kooperaif menurut Suyatno (2009: 52) sebagai berikut:
a.    Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
b.    Menyajikan informasi
c.    Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d.   Membimbing kelompok belajar dan bekerja.
e.    Evaluasi
f.     Memberikan penghargaan.

Salah satu tipe belajar kooperatif adalah TAI. Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran individual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh karena  itu kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah. Ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
TAI dirancang secara khusus untuk mengajar matematika. Model pembelajaran kooperatif tipe TAI merupakan pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran kelompok dengan pembelajaran individu. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya karena keberhasilan kelompok ditentukan oleh masing-masing anggota kelompok, dalam hal ini setiap kelompok harus bekerjasama dan saling membantu untuk saling memahami pelajaran karena pelajaran belum dapat dilanjutkan jika salah satu anggota kelompok belum menguasai materi pelajaran (Slavin,  2010).
Slavin (2010) mengemukakan bahwa TAI dirancang untuk memenuhi kriteria berikut untuk memecahkan masalah teoritik dan praktikal dari pembelajaran individu :
1.   Guru akan terlibat secara minimal dalam manajemen yang rutin dan pemeriksaan;
2.   Guru akan menghabiskan paling sedikit setengah dari waktunya untuk mengajar kelompok kecil;
3.   Pengoperasian program sangat sederhana sehingga siswa kelas 3 SD keatas bisa mengaturnya;
4.   Siswa dimotivasi untuk maju secara cepat dan akurat untuk menyelesaikan materi dan tidak untuk berbuat curang;
5.   Waktu akan sangat efektif  bagi siswa yang telah menguasai materi karena dapat melanjutkan ke materi berikutnya;
6.   Saling memeriksa pekerjaan temannya;
7.   Program sangat mudah dipelajari oleh guru dan murid, murah dan fleksibel.
8.   Dengan mengelompokkan siswa dengan status kelompok yang sama, program akan mencapai kondisi untuk sikap positif terhadap alur utama akademik siswa yang kurang pintar dan antara siswa yang berbeda suku.
          Slavin (2010) mengemukakan bahwa terdapat elemen-elemen pembelajaran kooperatif tipe TAI, yaitu :
1.   Tes Penempatan
Siswa diberikan tes awal untuk melihat kemampuan siswa yang nantinya akan dikelompokkan secara heterogen.
2.   Kelompok
Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota 4 sampai 5 orang yang kemampuannya heterogen.
3.    Materi pelajaran
 Materi pelajaran terdiri dari :
a.    Halaman panduan yang mengulas konsep-konsep materi yang akan dibahas oleh guru.
b.    Soal-soal latihan.
c.    Tes formatif.
d.   Lembar jawaban untuk latihan dan tes formatif.
4.   Kelompok belajar                       
Dari hasil tes penempatan guru mengajarkan materi pertama dan kemudian siswa diberikan latihan yang harus dipelajari dan dikerjakan dalam kelompok. Siswa mempelajari materi tersebut dalam kelompoknya, meliputi tahap berikut :
a.    Siswa membentuk pasangan dalam masing-masing kelompok.
b.    Siswa membaca halaman panduan dan meminta bantuan teman satu kelompok atau kepada guru bila diperlukan, kemudian mereka mulai mengerjakan latihan dalam masing-masing kelompok.
c.    Tiap siswa mengerjakan soal latihan kemudian mereka saling mengoreksi pekerjaan teman yang lain. Siswa yang menghadapi pada tahap ini didorong untuk meminta bantuan timnya sebelum meminta bantuan pada guru. Apabila siswa tetap tidak dapat mengerjakan soal latihan, makaguru akan dipanggil untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Guru mungkin akan meminta  siswa kembali mengerjakan soal latihan yang berbeda namun memiliki tingkat kesulitan yang sejajar. Atau jika tidak siswa diperbolehkan mengikuti tes formatif.
d.   Siswa melaksanakan tes formatif. Tes formatif ini dikerjakan secara individu.
e.    Melakukan pengawasan pada siswa yang berada dalam tes formatif.

5.    Pengajaran kelompok
Dalam setiap pertemuan guru memberikan pengajaran kepada kelompok yang diambil dari kelompok heterogen dengan kemampuan yang sama dalam memahami materi. Tujuannya adalah untuk mengenalkan konsep penting dari materi pelajaran. Siswa yang lain belajar dalam kelompoknya mempelajari materi selanjutnya yang belum dikuasai.
6.   Nilai kelompok dan penghargaan kelompok
Nilai kelompok diambil dari rata-rata nilai yang diperoleh anggota kelompok. Penghargaan kelompok diberikan kepada kelompok yang memperoleh nilai rata-rata paling tinggi. Penghargaan kelompok berupa pujian atau hadiah.
Pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memiliki banyak persamaan dengan pembelajaran kooperatif tipe yang lainnya, tetapi pembelajaran ini mengkombinasikan antara pembelajaran kelompok dengan pembelajaran individu. Slavin 2010 (dalam Fitriani, 2013:53) langkah-langkah model Team Assisted Individualization (TAI) adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Langkah-lankah Model Team Assisted Individualization (TAI)
Fase
Prilaku guru
Tahap 1 (teams)
Tes penempatan dan pembentukan kelompok

1)  Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
2)   Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
3)   Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok terdiri dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender.
Tahap 2 (teaching group)
Pembelajaran oleh guru dan pengerjaan LKS oleh siswa secara individu.

Guru memberikan materi secara singkat dan memberikan latiahan soal kepada setiap individu siswa.
Tahap 3 (teams study)
Belajar kelompok.

1)   Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
2)   Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari
Tahap 4 (fact test)
Tes.
    Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.

Tahap 5 (team scores and recognition)
Perhitungan nilai kelompok dan pemberian penghargaan bagi kelompok yang unggul.

Di akhir setiap minggu guru menghitung nilai kelompok. Skor ini berdasar pada rata-rata nilai kuis yang diberikan oleh setiap kelompok.

No comments:

Post a Comment